Melangkah Untuk Mencari Arti Kehidupan Yang Sebenarnya
Si Jembling Dari Sangkrah 02 / 09 / 2010
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Mungkin Orang Ini agak Aneh Tetapi Dia sebetulnya dia adalah juragan sate yang ada si sebuah kampung sangkrah. Dia menangani warungnya mulai sejak umur 9 tahun pada waktu dia masih duduk di Sekolah dasar
Hari mulai berjalan Menggerus waktu yang semakin dekat Dekat dengan pemantapan Pemantapan tentang sebuah pilihan Dimana kita tidak perlu bimbang dan ragu Dalam menjatuhkan hati dengan Seorang Pemimpin Mantapkan Pilihan dengan Pemimpin yang penuh Cinta Cinta seperti Lilin dan nyala api Lilin rela habis tergerus panas api Untuk Menerangi Sebuah Ruang Cinta seperti bulan dan bintang Yang selalu berdampingan dan Beriringan Cinta seperti Induk Singa pada anaknya Yang Selalu Melindungi anak anaknya dari bahaya Pilihan itu Sudah ada di depan mata Terpampang jelas pemimpin yang memiliki cinta
Organisasi masyarakat peduli lingkungan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menegaskan moratorium selama dua tahun yang menjadi komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak cukup untuk memperbaiki kerusakan hutan Indonesia. "Tidak cukup kalau hanya dua tahun moratorium. Keberhasilan moratorium bukan diukur dengan waktu," kata Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Berry N Furqon, di Jakarta, Sabtu. Ia mengatakan konsep Walhi untuk memperbaiki kerusakan hutan lebih melihat pada indikator dan kriteria yang diselesaikan. "Tidak bisa kalau patokannya waktu". Selain itu, ia mengatakan penyelamatan hutan juga tidak boleh berpatokan pada dana bantuan, tetapi menjadi kesadaran pemerintah bahwa hal tersebut merupakan tugas pemerintah. Pembenahan regulasi, manajemen kehutanan, reformasi hukum, reformasi agraria, menurut Berry, harus dilakukan. "Termasuk juga pemerintah harus tegas dalam masalah pasok kayu pada industri, semua harus dilaksanakan secara lestari," lan...
Pengamat pendidikan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Semarang, Muhdi, menilai, razia telepon seluler yang dilakukan terhadap para siswa untuk mengantisipasi peredaran video porno, tak efektif. "Razia ponsel yang dilakukan terhadap para siswa hanya dilakukan di sekolah, bagaimana setelah mereka pulang sekolah," kata Muhdi yang juga Rektor IKIP PGRI Semarang itu di Semarang, Minggu. Menurut dia, kekhawatiran pihak sekolah terhadap peredaran video porno di kalangan siswa terkadang disikapi secara spontan dengan melakukan razia, padahal hal itu justru tidak terlalu efektif. Terlebih lagi, kata dia, kekhawatiran itu semakin besar dengan merebaknya peredaran video porno dengan pemeran mirip artis yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan masyarakat. Ia mengatakan pihak sekolah harus menerapkan pendidikan karakter dan mental siswa secara optimal sehingga mereka tak mudah goyah ataupun tergoda dengan hal-hal negatif yang terjadi. "Kalau karakter, kepribad...
Komentar