Senin, 14 Juni 2010

Warga RI Asal Timtim Mohon Atensi Pemerintah

Puluhan ribu warga Indonesia asal Timor Timur yang tersebar dari Atambua, Kupang dan berbagai pelosok Provinsi Nusa Tenggara Timur bahkan ke beberapa provinsi minta atensi Pemerintah atas nasibnya yang mayoritas berada di bawah garis kemiskinan.
"Sejak gelombang awal para pengungsi lari dari Timor Timur (kini berubah jadi Timor Leste), kami dijanjikan mendapatkan tempat tinggal layak huni, fasilitas pendidikan yang memadai bagi anak-anak dan pelayanan kesehatan serta pekerjaan yang sesuai," kata salah satu pimpinan warga RI eks pengungsi dari Timor Timur (Timtim), Robby Dikurtis Korinus, melalui hubungan telepon seluler, di Jakarta, Minggu.
Tapi dalam kenyataan, katanya, mayoritas penduduk terlunta-lunta.
Pihaknya juga pernah mengadu kepada Komisi I dan Komisi II DPR RI periode sebelumnya, tetapi menurutnya, hingga kini belum ada atensi serius.
"Kami ini prointegrasi dan cinta `Merah Putih` asli. Harta benda bahkan nyawa saudara-saudara kami tertinggal tanpa jejak yang jelas di Provinsi Timor Timur, atau yang kini telah berubah jadi Negara Timor Leste," ungkapnya.
Memang, demikian Robby Korinus, beberapa pejabat, mulai dari menlu maupun mendagri hingga gubernur selalu menjanjikan fasilitas-fasilitas perumahan, pendidikan, kesehatan dan pekerjaan.
"Tetapi yang terjadi sekarang banyak eks pengungsi Timtim masih berstatus pengungsi di Tanah Air sendiri. Tinggal di gubuk-gubuk reyot tanpa perhatian Pemerintah, dengan alasan waktu pemberian bantuan telah habis," ungkapnya.
Karena itu, Robby Dikurtis Korinus atas nama rekab-rekannya WNI asal Timtim, amat berharap atensi dan uluran tangan Pemerintah bagi perbaikan nasib yang benar-benar amat terpuruk jauh di bawah garis kemiskinan.

Razia Ponsel Siswa Tak Efektif

Pengamat pendidikan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Semarang, Muhdi, menilai, razia telepon seluler yang dilakukan terhadap para siswa untuk mengantisipasi peredaran video porno, tak efektif.
"Razia ponsel yang dilakukan terhadap para siswa hanya dilakukan di sekolah, bagaimana setelah mereka pulang sekolah," kata Muhdi yang juga Rektor IKIP PGRI Semarang itu di Semarang, Minggu.
Menurut dia, kekhawatiran pihak sekolah terhadap peredaran video porno di kalangan siswa terkadang disikapi secara spontan dengan melakukan razia, padahal hal itu justru tidak terlalu efektif.
Terlebih lagi, kata dia, kekhawatiran itu semakin besar dengan merebaknya peredaran video porno dengan pemeran mirip artis yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan masyarakat.
Ia mengatakan pihak sekolah harus menerapkan pendidikan karakter dan mental siswa secara optimal sehingga mereka tak mudah goyah ataupun tergoda dengan hal-hal negatif yang terjadi.
"Kalau karakter, kepribadian, dan mental siswa sudah disiapkan secara kuat, sekolah tidak perlu khawatir secara berlebihan dan melakukan razia-razia semacam itu," katanya.
Namun, kata dia, pendidikan karakter saat ini sepertinya kurang diperhatikan dan jarang diterapkan di sekolah-sekolah, padahal hal itu dapat membentengi siswa dari berbagai perbuatan negatif.
"Karena itu, pihak sekolah harus menanamkan pendidikan karakter terhadap seluruh siswa secara terus-menerus dan jangan sampai siswa kekurangan aktivitas setelah proses pembelajaran rutin berakhir," katanya.
Menurut dia, pihak sekolah dapat menanamkan pendidikan karakter itu ke dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler, namun sayangnya banyak sekolah yang saat ini tak lagi mengadakan kegiatan semacam itu.
"Padahal, kegiatan ekstrakurikuler sangat positif dan dapat mengisi aktivitas siswa seusai sekolah, sehingga siswa terhindar dari kegiatan-kegiatan negatif," kata Muhdi yang juga Sekretaris Umum PGRI Jateng itu.
Senada dengan itu, Sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jateng, Tafsir, menilai, peredaran video porno dengan pemeran mirip artis yang belakangan marak merupakan risiko dari perkembangan teknologi.
"Perkembangan teknologi terjadi sangat cepat dan menimbulkan berbagai dampak negatif yang tidak dapat dihindari, karena itu perlu penguatan iman, akhlak, dan mental para umat," katanya.
Menurut dia, pemerintah sudah mengupayakan antisipasinya dengan pemblokiran situs yang menayangkan video porno itu, namun cara itu juga tidak terlalu efektif karena membutuhkan biaya sangat besar.
Upaya menggelar razia-razia di sekolah dan berbagai instansi sebenarnya baik, kata dia, tetapi harus dilakukan secara terus-menerus, karena itu upaya semacam itu juga menjadi tidak terlalu efektif.
"Upaya yang paling efektif adalah pembinaan dan penguatan mental, dan kuncinya ada di tangan seorang ibu yang mendidik anaknya menjadi anak tangguh yang tidak mudah goyah dengan hal-hal negatif," kata Tafsir.